KEAMANAN BERKENDARA TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Posted: Januari 21, 2009 in Uncategorized

mm2
========================================
SIANG itu suasana kota Surabaya agak mendung. Walaupun begitu panasnya kota perjuangan masih terasa ditambah dengan suasana lalu lintas yang ramai. Sepeda motor yang dikendarai Media Indonesia pun berjalan secara normal mematuhi rambu lalu lintas yang ada.
Namun saat memasuki perempatan jalan DR Soetomo, seorang berbaju coklat yang sedang berdiri pas di <i>zebra cross<p> yang langsung menghentikan sepeda motor. Dari seragamnya tentu dapat terlihat orang tersebut merupakan salah satu petugas polisi lalu lintas (polantas).
Dengan langkah tegap dan sedikit membentak polantas ini meminta <i>Media Indonesia<p> untuk mengikutinya menuju pos polisi yang terletak di pinggir jalan. Polantas tersebut menyebutkan bentuk pelanggaran yakni pengunaan helm cetok.
Oknum polantas tersebut mengajukan opsi, sidang atau denda. Jelas, sebagai pengendara yang sedang berpergian dari luar kota, memilih untuk menghabiskan hari hanya untuk menunggu hari sidang STNK jelas bukan ide yang baik. Seperti syair lagu Iwan Fals, tawar menawar harga pas, lalu tancap gas.
Dari peristiwa tersebut ada dua sisi yang patut dicermati. Pertama sebagai kota metropolitan ke dua di Indonesia setelah Jakarta, setidaknya kota Surabaya telah memiliki kepedulian keselamatan berlalu lintas lebih baik. Peraturan yang lebih ketat lagi agar para pengguna jalan raya lebih aman dari kecelakaan lalu lintas, salah satunya pengguna kendaraan bermotor harus menggunakan helm standar dinilai sangat baik.
Karena menilik dari data Asuransi Jasa Raharja tahun lalu, korban tewas kecelakaan jalan yang melibatkan sepea motor 16 ribu orang per tahun. Jumlah itu setara dengan 54 persen jumlah korban tewas kecelakaan jalan. Dari angka kecelakaan di jalan raya melibatkan sepeda motor itu, sebanyak 90 persen dari korban itu menderita luka parah di kepala.
Sisi lain yang nampak dan sangat disayangkan adalah masih ditemui tindakan aparat dan sanksi hukumnya tidak dijalankan dengan tegas. Indikasi bahwa kecenderungan masyarakat makin mengabaikan aturan-aturan umum yang mestinya ditaati memang kenyataan riil yang kita hadapi sekarang. Ditambah ketidak tegasan aplikasi aturan tersebut setidaknya memiliki dampak yang lebih luas. Selain banyak menelan korban jiwa, juga turut memberi kontribusi pada kerugian materil.
Menurut uraian data Asian Development Bank (ADB) yang dilansir pada 2004 menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan di Indonesia mencapai 30 ribu jiwa per tahun, atau 82 orang per hari. Data juga menyebutkan, total kerugian akibat kecealakaan tak kalah besar, Rp 41 triliun setahun, setara 2,91 dari Gross Domestic Product (GDP). Sementara data jumlah kecelakaan dari kepolisian pada 2007, tercatat 16.548 kasus dengan kerugian materil mencapai Rp 103,29 miliar.
Pada kesempatan program safety riding beberapa waktu lalu, Adjar Triyadi selaku Wakil Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengungkapkan bahwa tidak kurang dari 30,000 nyawa manusia melayang akibat kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya. Dan korban jiwa yang paling banyak  adalah pengendara motor. “Keselamatan berkendara sangat ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu pengendara, kelaikan kendaraan, dan pengetahuan lalu lintas,” jelasnya.
Dari sisi pengendaranya, kelengkapan berkendara sepeda motor memang harus ekstra lengkap. Karena berbeda dengan mobil dimana pengendara dilindungi oleh fitur keselamatan dalam mobil, pada sepeda motor sang pengendaralah yang harus mempersiapkan kelengkapan untuk aman berkendara. Seperti harus memakai helm standar, sepatu di atas mata kaki, sarung tangan, dan jaket.
Harus diakui, disiplin berkendara kendaraan bermotor bisa dikatakan masih berada pada tingkat yang menyedihkan. Semoga melalui rangkaian program keamanan berkendara ini, maka cara berfikir dan bertindak yang aman di jalan dapat tersosialisasikan dengan baik, sehingga dapat dengan efektif menekan angka kecelakaan di jalan raya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s