SUKU CADANG NAIK MOTOR SEMAKIN TIDAK TERURUS

Posted: Maret 4, 2009 in bisnis

BANGLADESH/

AWAL tahun ini seperti prediksi kalangan otomotif sebelumnya bahwa angka penjualan produk-produk produsen otomotif mengalami penurunan sekitar 20% benar terjadi. Tidak hanya produsen otomotif roda empat saja yang mengalami penurunan, industri roda dua juga mengalami hal yang sama.
yamaha-mio-2005-9

Realisasi penjualan sepeda motor nasional menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), dibandingkan periode sama tahun sebelumnya telah terjadi penurunan sekitar 22,23% pada Januari 2009. Berbagai faktor penyebab pun banyak dilontarkan berbagai pengamat mulai dari naiknya suku bunga bank, sulitnya likuiditas lembaga pembiayaan sehingga melemahnya daya beli masyarakat.
Semua itu berujung pada suatu kenyataan bahwa industri otomotif masih terkena imbas dari krisis finansial global yang belum pulih. Namun saat terjadi penurunan daya beli masyrakat, satu permasalahan yang dialami konsumen otomotif nasional adalah menghadapi kenaikan harga suku cadang sepeda motor.
Seperti yang terjadi diberbagai bengkel di Jakarta. Salah satu spare part yang harganya kini naik adalah kampas rem. Sebelumnya konsumen membeli kampas rem seharga Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu, tapi kini harganya Rp 20 ribu. Itu pun belum termasuk ongkos pemasangan.
Peningkatan harga tersebut tentu disertai dengan penurunan konsumen yang cukup signifikan. Hal itu dialami Alex, 29, pemilik bengkel motor di wilayah Kebon Jeruk. Sudah satu bulan ini, bengkelnya yang juga melayani modifikasi motor tersebut sepi dari konsumen. Menurutnya, naiknya harga suku cadang mempengaruhi konsumen untuk merawat alat transportasinya itu.
“Biasanya per bulannya ada saja yang minta sepeda motornya dimodifikasi. Ganti shock atau yang lainnya. Sekarang ini dua bulan baru dapat dua pesanan,” ungkapnya.
BANGLADESH/ Menurut Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian, Budi Dharmadi sebenarnya situasi industri komponen di tanah air saat penjualan otomotif anjlok di 2006 dari 520.000 unit menjadi 390.000 unit, justru pertumbuhan aftersales di Indonesia masih terjadi.
Hal tersebut lebih disebabkan masih adanya unit kendaraan yang bergerak di pasaran yang tentu membutuhkan penggantian suku cadang.”Kalau suku cadang untuk ‘assembly’ memang akan mengikuti pasar, kalau penjualan kendaraan baru turun maka penjualan suku cadang ini juga akan turun. Tapi komponen untuk ‘aftersales’ masih akan bergerak karena pasarnya masih ada,” katanya seperti dikutip dari Antara, Kamis (12/2).
Semenatara Direktur Marketing PT Nipress Tbk, Herman Slamet mengungkapkan bagi industri otomotif secara keseluruhan memang mahalnya harga bahan baku impor menjadi masalah. Kenaikan baja untuk otomotif mencapai 300%, belum lagi bahan baku lainnya yang juga mengalami kenaikan rata-rata di atas 100%.
Namun, Direktur Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Walter North justruy menilai bahwa dalam kondisi krisis ini justru perlu bagi industri komponen terutama industri kecil dan menengah (IKM) yang memproduksi suku cadang membenahi diri agar menjadi lebih kompetitif.
Sehingga disaat krisis berlalu IKM tersebut telah siap bersaing dengan industri komponen dari negara lain. “Industri komponen otomotif hanya dapat bertahan dalam krisis ekonomi global dan menjadi lebih maju apabila industri ini bisa lebih kompetitif,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s