Arsip untuk Desember, 2009

Pengendara sepeda motor wajib menyalakan lampu dan semua kendaraan tidak boleh lagi langsung belok kiri.

RAMBU lalu lintas yang memperbolehkan pengemudi kendaraan bermotor bisa langsung belok kiri tidak berlaku lagi. Berdasarkan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas, pengemudi harus berpatokan pada rambu lalu lintas, yakni merah (berhenti), kuning (siap-siap), dan hijau (jalan).

Pengendara yang langsung belok kiri dengan mengabaikan lampu lalu lintas akan ditilang. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya (PMJ) Komisaris Besar Condro Kirono menjelaskan, sejak DPR mengesahkan UU Lalu Lintas No 22 pada 1 Juni 2009, ketentuan itu telah berlaku.

“Bagi yang melanggar bisa ditilang dengan denda maksimal Rp250 ribu,” ujar mantan Dirlantas Polda Jatim itu, kemarin. Jumlah denda yang harus ditanggung pelanggar akan diputuskan hakim dalam persidangan.

Hal itu diatur dalam Pasal 113 ayat 1 yang berbunyi pada persimpangan yang tidak dikendalikan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi wajib memberikan hak utama kepada kendaraan yang datang dari depan atau dari arah persimpangan lain.

Pengemudi yang datang dari cabang persimpangan lebih kecil ataupun dari pekarangan harus mendahulukan kendaraan yang datang dari jalan utama.

Selanjutnya, UU itu mengamanatkan pengemudi harus mengutamakan kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan sebelah kiri (jika persimpangan empat atau lebih dan sama besar).

Kendaraan yang datang dari arah cabang sebelah kiri di persimpangan tiga yang tidak tegak lurus juga harus didahulukan. Begitu pula dengan kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan tiga tegak lurus.

UU tersebut belum diketahui masyarakat sehingga setiap penilangan di lapangan mengundang perdebatan. “Saya protes karena sebelumnya di pertigaan Jl Merdeka-Jl Imam Bonjol Kota Tangerang dari arah Jembatan Grendeng menuju Jl Imam Bonjol bisa langsung belok kiri. Saat ini tidak boleh lagi. Kalau kita berhenti, kendaraan dari belakang mengklakson keras-keras. Mereka teriakan kita bloon, serbasalah,” keluh Tjahyo, warga Tangerang.

Condro mengakui sosialisasi UU tersebut memang belum maksimal sehingga masih banyak pengendara yang tidak tahu. Pihaknya akan terus menyosialisasikan aturan-aturan tersebut. Sehubungan dengan rambu lalu lintas yang memperbolehkan belok kiri masih terpampang di beberapa ruas jalan, Condro mengatakan segera berkoordinasi dengan pihak terkait agar menertibkan rambu-rambu tersebut. Rambu-rambu merupakan kewenangan Dinas Perhubungan DKI.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Riza Hasyim mengakui UU Lalu Lintas yang baru memang sudah terbit, tapi peraturan pemerintah (PP) tentang hal tersebut belum keluar. “PP-nya terbit paling Desember. Jadi, kami menyosialisasikan dulu melalui media cetak dan elektronik,” imbuhnya.

UU No 22 juga mewajibkan setiap pengendara sepeda motor menyalakan lampu pada siang hari. “Kalau dulu sifatnya imbauan. Sekarang sudah wajib sesuai UU yang baru,” tandas Condro.

Sandy, warga Mampang, Jaksel, mengeluhkan UU itu akan menguras isi dompetnya sebab dengan menyalakan lampu pada siang dan malam hari akan membuatnya sering ganti aki.

Pasal yang Perlu Diketahui pada UU Lalu Lintas yang Baru:

Paragraf 4 Belokan atau Simpangan Pasal 112 (1) Pengendara yang akan berbelok wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, samping, dan belakang kendaraan serta memberi isyarat baik dengan lampu penunjuk maupun isyarat tangan.

(2) Pengemudi kendaraan yang akan pindah lajur atau bergerak ke samping juga wajib mengamati situasi lalu lintas di sekitarnya serta memberi isyarat.

(3) Pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok ke kiri kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas dan alat pemberi isyarat lalu lintas.

Pasal 113 (1) Pada persimpangan sebidang yang tidak dikendalikan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi wajib memberi hak utama pada: a. Kendaraan yang datang dari arah depan dan/atau dari arah persimpangan lain jika hal itu dinyatakan rambu atau marka jalan.

b. Kendaraan dari jalan utama jika pengemudi tersebut datang dari cabang persimpangan yang lebih kecil atau dari pekarangan yang berbatasan dengan jalan.

c. Kendaraan dari arah cabang persimpangan sebelah kiri jika cabang persimpangan empat atau lebih dan sama besar.

d. Kendaraan dari arah cabang sebelah kiri di persimpangan tiga yang tidak tegak lurus, atau e. Kendaraan dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan tiga tegak lurus.

(2) Jika persimpangan dilengkapi alat pengendali lalu lintas berbentuk bundaran, pengemudi harus memberi hak utama pada kendaraan lain yang datang dari kanan.

—————————-

Sumber: UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Semangat Kando Buahkan Prestasi

Posted: Desember 18, 2009 in Yamaha

AJANG balapan Yamaha Asean Cup Race (YACR) ke-7 yang berlangsung di Sirkuit Karting Sentul, 27-29 November lalu berbuah prestasi manis. Pebalap-pebalap Indonesia yang turun di kelas pemula (novice) maupun expert berhasil merebut titel juara umum dari tangan Thailand.

Tim Yamaha Indonesia di kelas novice ada Anggi Permana, Asep Maulana, Yoga Adi Pratama, Ferdi Efendi, dan Novin Arisandi. Sementara itu, untuk kelas expert diwakili Hokky Krisdianto, Florianus Roy, Denny Triyugo, Sigit PD, serta Ermal Wijaya. Tim ini mampu mengungguli yang lain dengan meraih poin terbanyak dan berhak memperoleh trofi juara umum.

Selain dari Indonesia dan Thailand, balapan YACR tahun ini diikuti pula pembalap dari Malaysia dan Filipina. Mesin yang digunakan dalam kompetisi ini terdiri dari dua jenis. Model andalan Yamaha tipe T135 atau biasa dikenal dengan tipe Jupiter MX 135 dipakai untuk kelas expert, sedangkan mesin tipe T110 milik Jupiter Z untuk kelas pemula.

Presiden PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), Yoshiteru Takahashi menyebut gelaran balap YACR ini punya arti penting sebagai sarana pembinaan pebalap, selain menjadi alat promosi Yamaha sebagai merek yang mengusung citra sporty. Menurutnya, melalui ajang balap motor ini, bakat-bakat pebalap muda dan mekanik dari negara-negara di kawasan ASEAN terfasilitasi untuk dapat berkompetisi dan menunjukkan bakatnya demi cita-cita yang lebih tinggi di tingkat internasional.

“Ajang ini adalah pintu gerbang menuju level kejuaraan internasional. Buktinya, Doni Tata berhasil menembus level itu dan saat ini berlaga di World Super Sport. Tahun ini, Yamaha juga berhasil bersinar di beberapa kejuaraan seperti MotoGP, World Super Sport, World Super Bike, World Super Cross, dan Indoprix,” ujar Takahashi.

Yang menarik perhatian pengunjung, pada ajang balapan YMKI juga menghadirkan pebalap MotoGP dari Tim Yamaha, Jorge Lorenzo. Runner up MotoGP 2009 ini tampil untuk memberi semangat peserta balapan, sekaligus memperkenalkan produk terbaru Yamaha Jupiter Z 115cc. Duo trial riding andal dari Jepang yaitu Narita bersaudara juga hadir memperlihatkan demo keahlian dan ketangkasan mereka.

“Yamaha selalu menempatkan kegiatan balap motor sebagai bagian penting dari kegiatan korporat Yamaha yang merefleksikan semangat dari tantangan,” jelas Yoshio Wakuta, GM of Commuter Vehicle Sales Division, Yamaha Motor Co Ltd.

Tujuan penting lain dari Yamaha Asean Cup Race ini, imbuh Wakuta, adalah untuk berbagi semangat kando dengan sesama pembalap, anggota tim dan penonton yang datang menyaksikan acara balap tersebut. Dalam budaya Jepang, kando bisa diartikan sebagai semangat pantang menyerah yang dikreasikan dengan sikap jujur, sportif dan semangat menghadapi tantangan untuk mencapai cita-cita tertinggi.

Strategi Menaikkan Kelas

Posted: Desember 18, 2009 in bisnis, Honda, Suzuki, Yamaha

Produk versi baru dari motor jenis lama kini tak hanya mengubah tampilan bodi, tapi juga menambah isi mesin.

ADA satu hal menarik saat PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) meluncurkan New Jupiter Z di Jakarta, Senin (30/11) lalu. Menarik bukan dari sisi prosesi peluncurannya–yang notabene mirip-mirip dengan prosesi peluncuran produk motor baru lainnya, melainkan menarik dari segi perubahan yang ditawarkan produk baru itu.

Umumnya kehadiran suatu motor baru beberapa tahun terakhir masih berkutat di sekitar perubahan tampilan saja. Sebut saja di sektor desain bodi, mulai bentuk lampu depan, panel spidometer, front flasher, cover handle, hingga lampu belakang.

Tapi kini ada tren lain. Strategi baru berupa penambahan kapasitas mesin sedang coba ditawarkan para perusahaan pemegang merek sepeda motor. Tak banyak-banyak memang, paling banyak penambahan itu hanya 10 cc. Misalnya dari motor 100 cc dinaikkan menjadi 110 cc, atau dari 110 cc di-upgrade menjadi 115 cc.

New Jupiter Z yang kini mengusung mesin 113,7 cc (115 cc) dari sebelumnya 110 cc sebetulnya bukan motor pertama yang kelas cc-nya dinaikkan. Setahun lalu pada gelaran Jakarta Motorcycle Show 2008, Yamaha sudah lebih dulu meluncurkan Yamaha Vega ZR yang merupakan penyempurnaan Yamaha Vega berkapasitas 110 cc. Persis seperti Jupiter, Yamaha Vega yang baru ini naik dari 100 cc menjadi 113,7 cc.

Di waktu yang berbeda, PT Astra Honda Motor (AHM) juga melakukan hal yang sama. Berbeda dengan peluncuran bebek sebelumnya yang sebatas facelift, kali ini AHM menyiapkan motor bebek dengan kapasitas lebih besar daripada pendahulunya. Honda Revo yang tadinya hanya 100 cc dinaikkan menjadi Honda Absolute Revo dengan mesin 110 cc.

Apa sebenarnya yang diharapkan pabrikan dengan penambahan kapasitas mesin yang cuma secuil itu? Mohammad Masykur, Manager Model Planning Development R&D Division YMKI, menyebut tenaga, torsi, dan akselerasi menjadi pertimbangan.

Pada New Jupiter Z misalnya. Dengan kapasitas mesin yang baru, kini tenaga dan torsi maksimum bisa diperoleh pada putaran yang lebih rendah, bahkan sampai 500 rpm di bawah mesin yang lama. “Akselerasinya lebih cepat 0,1 detik untuk 0-100 meter. Kecepatan maksimum juga naik dari 88 menjadi 95 km/jam,” jelasnya.

Strategi life cycle

Yang tak kalah menarik, dengan meluncurkan motor upgrade ini pabrikan sampai berani menghentikan (discontinue) produk lamanya. Sebuah strategi yang cukup berani mengingat sebetulnya motor-motor lama yang di-discontinue itu, seperti Honda Revo dan Yamaha Jupiter Z, sama-sama merupakan penguasa di kelas motor cubs di Indonesia.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI), selama kurun waktu 2008, Revo 100 cc mampu mencatat penjualan 1.196.418 unit. Jupiter Z versi lama mencatatkan raihan angka penjualan sebanyak 564.593 unit atau 38,8% market share kelas motor menengah.

Honda, melalui Direktur Pemasaran AHM yang kala itu dijabat Johannes Loman, beralasan mereka sengaja menyetop produksi Honda Revo versi lama dan Supra Fit X yang sama bermesin 100 cc karena ingin memperkuat segmen di atasnya, yaitu kelas bebek di bawah 125 cc.

“Dengan kehadiran Honda Absolute Revo, kami optimistis mampu menguasai 62% pasar kelas bebek di bawah 125 cc pada 2009, naik dari 2008 yang sebesar 56%,” ujarnya.

Alasan Vice President Director YMKI Dyonisius Beti, peluncuran Jupiter Z baru dan penghentian produksi versi lama ini terkait dengan strategi life cycle yang diusung Yamaha. Strategi yang meyakini bahwa suatu produk sepeda motor biasanya memiliki rentang waktu 3-5 tahun.

Artinya setelah memasuki tahun ketiga, sepeda motor Yamaha dituntut melakukan perubahan. Baik itu sekadar perubahan eksterior ataupun dalam bentuk perubahan keseluruhan mulai desain hingga mesin. “Peluncuran ini sudah on schedule, pada 2004 lalu diluncurkan generasi pertama Jupiter, lalu minor change di 2007. Kini 2009 perubahan total dilakukan pada Jupiter Z,” jelasnya.

Meski mengaku belum akan melakukan hal yang sama, Edi Darmawan 2w Marketing Promotion & Dealer Development PT Suzuki Indomobil Motor menilai tren peningkatan cc suatu sepeda motor seperti ini tentu dilandasi kebutuhan konsumen itu sendiri. Kini banyak konsumen khususnya anak muda memilih motor berkapasitas tinggi dengan harapan dapat memperoleh performa baik. “Barangkali itu salah satu alasan pabrikan menaikkan cc produk motornya.”

Persoalannya, naiknya cc sudah pasti diikuti kenaikan harga. Artinya, lagi-lagi konsumen dipaksa merogoh kocek mereka lebih dalam. Lalu, ke mana akan larinya konsumen yang tidak mampu mengikuti strategi dan kemauan produsen?