Aturan Belok Kiri Langsung tidak Berlaku Lagi

Posted: Desember 18, 2009 in unik

Pengendara sepeda motor wajib menyalakan lampu dan semua kendaraan tidak boleh lagi langsung belok kiri.

RAMBU lalu lintas yang memperbolehkan pengemudi kendaraan bermotor bisa langsung belok kiri tidak berlaku lagi. Berdasarkan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas, pengemudi harus berpatokan pada rambu lalu lintas, yakni merah (berhenti), kuning (siap-siap), dan hijau (jalan).

Pengendara yang langsung belok kiri dengan mengabaikan lampu lalu lintas akan ditilang. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya (PMJ) Komisaris Besar Condro Kirono menjelaskan, sejak DPR mengesahkan UU Lalu Lintas No 22 pada 1 Juni 2009, ketentuan itu telah berlaku.

“Bagi yang melanggar bisa ditilang dengan denda maksimal Rp250 ribu,” ujar mantan Dirlantas Polda Jatim itu, kemarin. Jumlah denda yang harus ditanggung pelanggar akan diputuskan hakim dalam persidangan.

Hal itu diatur dalam Pasal 113 ayat 1 yang berbunyi pada persimpangan yang tidak dikendalikan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi wajib memberikan hak utama kepada kendaraan yang datang dari depan atau dari arah persimpangan lain.

Pengemudi yang datang dari cabang persimpangan lebih kecil ataupun dari pekarangan harus mendahulukan kendaraan yang datang dari jalan utama.

Selanjutnya, UU itu mengamanatkan pengemudi harus mengutamakan kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan sebelah kiri (jika persimpangan empat atau lebih dan sama besar).

Kendaraan yang datang dari arah cabang sebelah kiri di persimpangan tiga yang tidak tegak lurus juga harus didahulukan. Begitu pula dengan kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan tiga tegak lurus.

UU tersebut belum diketahui masyarakat sehingga setiap penilangan di lapangan mengundang perdebatan. “Saya protes karena sebelumnya di pertigaan Jl Merdeka-Jl Imam Bonjol Kota Tangerang dari arah Jembatan Grendeng menuju Jl Imam Bonjol bisa langsung belok kiri. Saat ini tidak boleh lagi. Kalau kita berhenti, kendaraan dari belakang mengklakson keras-keras. Mereka teriakan kita bloon, serbasalah,” keluh Tjahyo, warga Tangerang.

Condro mengakui sosialisasi UU tersebut memang belum maksimal sehingga masih banyak pengendara yang tidak tahu. Pihaknya akan terus menyosialisasikan aturan-aturan tersebut. Sehubungan dengan rambu lalu lintas yang memperbolehkan belok kiri masih terpampang di beberapa ruas jalan, Condro mengatakan segera berkoordinasi dengan pihak terkait agar menertibkan rambu-rambu tersebut. Rambu-rambu merupakan kewenangan Dinas Perhubungan DKI.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Riza Hasyim mengakui UU Lalu Lintas yang baru memang sudah terbit, tapi peraturan pemerintah (PP) tentang hal tersebut belum keluar. “PP-nya terbit paling Desember. Jadi, kami menyosialisasikan dulu melalui media cetak dan elektronik,” imbuhnya.

UU No 22 juga mewajibkan setiap pengendara sepeda motor menyalakan lampu pada siang hari. “Kalau dulu sifatnya imbauan. Sekarang sudah wajib sesuai UU yang baru,” tandas Condro.

Sandy, warga Mampang, Jaksel, mengeluhkan UU itu akan menguras isi dompetnya sebab dengan menyalakan lampu pada siang dan malam hari akan membuatnya sering ganti aki.

Pasal yang Perlu Diketahui pada UU Lalu Lintas yang Baru:

Paragraf 4 Belokan atau Simpangan Pasal 112 (1) Pengendara yang akan berbelok wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, samping, dan belakang kendaraan serta memberi isyarat baik dengan lampu penunjuk maupun isyarat tangan.

(2) Pengemudi kendaraan yang akan pindah lajur atau bergerak ke samping juga wajib mengamati situasi lalu lintas di sekitarnya serta memberi isyarat.

(3) Pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok ke kiri kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas dan alat pemberi isyarat lalu lintas.

Pasal 113 (1) Pada persimpangan sebidang yang tidak dikendalikan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi wajib memberi hak utama pada: a. Kendaraan yang datang dari arah depan dan/atau dari arah persimpangan lain jika hal itu dinyatakan rambu atau marka jalan.

b. Kendaraan dari jalan utama jika pengemudi tersebut datang dari cabang persimpangan yang lebih kecil atau dari pekarangan yang berbatasan dengan jalan.

c. Kendaraan dari arah cabang persimpangan sebelah kiri jika cabang persimpangan empat atau lebih dan sama besar.

d. Kendaraan dari arah cabang sebelah kiri di persimpangan tiga yang tidak tegak lurus, atau e. Kendaraan dari arah cabang persimpangan yang lurus pada persimpangan tiga tegak lurus.

(2) Jika persimpangan dilengkapi alat pengendali lalu lintas berbentuk bundaran, pengemudi harus memberi hak utama pada kendaraan lain yang datang dari kanan.

—————————-

Sumber: UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s