Arsip untuk April, 2010

Legenda Motor Dunia Reborn

Posted: April 15, 2010 in bisnis, Uncategorized

BAGI sebagian orang, masa lalu menarik untuk dikenang dan ditampilkan kembali. Fenomena mengulang kembali tren masa lalu atau disebut retro kini menjadi bagian aplikasi dari sepeda motor lansiran 2010 ini. Selain mengusung semangat rekonstruksi dan duplikasi, asimilasi dengan unsur kebaruan dapat menarik perhatian tersendiri di kalangan pencinta kuda besi.

Dalam hal ini motor retro jadi produk masa lalu yang disinergikan dengan teknologi terkini. Hal itu kini nampak diaplikasikan pada beberapa produk sepeda motor pabrikan ternama dunia seperti, Ducati, Honda, Moto Guzzi, Norton, dan Triumph.

Salah satu pabrikan yang kental dengan desain nuansa retro adalah Triumph. Lansiran terbaru pabrikan motor asal Inggris ini, tampak di inovasinya Triumph Thruxton SE. Desain retro hanya tampak pada tampilan luar motor ini saja seperti headlamp bulat, dan kondom tangki membulat.

Tapi jika melonggok dalam sektor mesin, dapur pacu DOHC dengan paralel twin cylinder dengan kapasitas 16 liter dapat menghasilkan kekuatan 67 hourse power (hp) dengan 50 kW @ 7250 rpm, plus akselerasi torsi 69 Nm pada posisi 5800 rpm.

Masih di kawasan Britania, salah satu legenda motor dunia yang kembali mengaspal di jalanan adalah, Norton Commando. Setelah hampir setahun dirancang para insinyurnya di Inggris, para penggemar motor klasik akan melihat kembali tampilan gres Norton Commando 961 .
Meski berparas klasik, Norton Commando dipersenjatai aplikasi berteknologi tinggi. Mesin injeksi paralel-twin berkapasitas 961 cc berpendingin udara yang sanggup memproduksi 80 hp dan torsi 90nm. Penerapan sistem injeksi bahan bakarnya didesain agar bisa lulus emisi di seluruh dunia sesuai aturan modern.

Lalu apakah hanya motor-motor lansiran benua biru Eropa saja yang melansir motor berdesain retro? Ternyata tidak. Salah satu pabrikan raksasa asal Jepang, Honda juga melansir motor bertipe retro. Melalui CB1000 yang diperkenalkan pada ajang Tokyo Motor Show 2009 lalu, Honda seakan ingin mengulang kembali keperkasaan tipe CB di pasar dunia.

Motor yang telah sukses di Indonesia sejak era 70-an itu kini siap kembali memikat penggemarnya. Teknologi mesin 1000cc berpendingin air, 16 katup empat silinder mampu memuntahkan tenaga lOObhp di 8500rpm, dan mampu menembus kecepatan 225km/jam. Hal itu tentu berbeda jauh dengan versi Honda CB era 70-an.

*Sekedar Fashion*

Menurut salah satu pemasok motor-motor Sport Retro di Indonesia yaitu, PT Supermoto Indonesia melalui Presiden Direktur-nya, Agustus Sani Nugroho mengungkapkan, alasan kehadiran motor-motor berpenampilan retro ini merujuk pada nilai historis masa kejayaan suatu sepeda motor.

“Sebagai contoh Ducati Paul Smart, kini kembali diluncurkan untuk mengenang kehebatan pebalap motor itu pada era 70-an,” katanya kepada Torsimax, Selasa (9/3).

Namun, lanjut Nugroho, walaupun suatu motor tipe retro itu dipasarkan kembali tapi, justru peminatnya banyak datang dari kaum muda. Pecinta suatu motor klasik, biasanya telah mengetahui sisi historis dari suatu motor yang mereka kagumi.

Animo itu coba disalurkan beberapa pabrikan dunia, dengan melahirkan kembali motor legendaris dengan teknologi terbaru. Adopsi teknologi terkini, dilakukan untuk memenuhi faktor kemudahan dalam mengendarainya dan juga daya tahan motor tersebut.

“Selain unsur nostalgia, sisi fashion juga menyertai pencari motor jenis ini. Mereka biasanya ingin dikenali dengan tunggangan motor klasik yang unik, tapi tidak mau direpoti urusan perawatan seperti motor antik,” jelas Nugroho.

Diakui di Indonesia, pasar motor retro ini sangat sedikit, sejak hadir pada 2007 silam, hingga kini pangsa pasar tetap tidak berubah. Berbeda dengan negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat, fenomena motor lawas berteknologi modern sedang naik daun.

Menciptakan kembali ‘roh’ dan merekonstruksi suatu motor lawas menjadi lebih eksklusif, berbeda dengan motor-motor mainstreem. Tentu jadi strategi pemasaran baru ala pabrikan motor dunia. Saat konsep sepeda motor menemukan titik jenuh, konsep motor retro tentu bisa dijadikan pilihan.

Iklan

Motor India pun Bisa Menari

Posted: April 15, 2010 in TVS

AKSI-aksi para freestyle telah terkenal mampu mendebarkan jantung para penontonnya. Aksi dasar wheelie (angkat roda depan) dan stoppie (angkat roda belakang) telah lekat dalam tiap penampilan mereka. Tidak perlu sepeda motor dengan modifikasi besar dalam melakukan aksi itu, cukup keberanian dan kemampuan yang mumpuni.

Seperti nampak disela-sela ajang kompetisi driftting yang berlangsung di Jiexpo, Kemayoran Jakarta, Sabtu-Minggu, 27-28 Maret 2010 lalu. Tiga frestyler lokal di atas tunggangan asal India, TVS mampu memukau ratusan penonton yang menyaksikan.

Dalam kesempatan itu, ketiga freestyler menggunakan TVS Apache RTR DD untuk menunjang penampilannya. Motor berkapasitas mesin 160 cc ini, tampak sangat ringan dan mudah ditaklukan menuruti kemampuan sang freestyler. Tak hanya mempertontonkan kecepatan, para freestyler juga memperlihatkan akurasi pengereman, keseimbangan, serta kemantapan handling TVS Apache.

Manuver wheelie yang dilakukan dengan mengangkat roda depan, dilanjutkan dengan aksi stoppie memberhentikan motor sambil mengangkat roda bagian belakang silih berganti ditampilkan. Dari kedua gaya tersebut kemudian dikombinasikan dengan gaya gaya ekstrem lainnya seperti wheelie sambil berputar, lepas tangan, atau stoppie dengan duduk diatas tangki bensin.

“TVS Apache RTR adalah motor sport yang tepat yang memiliki kelebihan baik dari segi kecepatan dan control, kedua hal inilah yang akan kita saksikan, baik dalam even drift battle maupun sajian khusus TVS Apache Freestlye,” ujar Benny Widyatmoko, GM Marketing PT. TVS Motor Company Indonesia (TMCI).

Selain mennampilkan suguhan freestyle pada ajang drift battle, TMCI memberikan TVS Apache RTR sebagai hadiah bagi pemenang kompetisi driftting tersebut. “Selama full seri drift batlle kita hadir, tentu dengan menampilkan produk andalan TVS,” tandas Nurlida Fatmikasari Corporate Communications TMCI.

Selanjutnya, TVS Motor akan hadir pada setiap seri Drift Battle yang akan diadakan dalam lima seri selama 2010, yakni, Seri 1 (27-28 Maret), Seri 2 (1-2 Mei), Seri 3 (31 Juli-1 Agustus), Seri 4 (9-10 Oktober), dan Seri 5 (20-21 November).

Setelah menyaksikan atraksi freestyle motor TVS Apache RTR 160, dapat terbukti bahwa motor ini termasuk sebagai motor yang serba bisa, dan sangat pas buat mereka yang suka atraksi freestyle. Selain bisa melesat dengan cepat, aksi wheelie , maupun aksi stoppie dengan sangat mudah dilakukan.

Rasanya penilaian TVS Apache RTR sebagai motor sport yang memiliki kelebihan baik dari segi kecepatan dan kontrol ini bukan sekedar omong kosong belaka.

Sisi Lain Balap Motor Drag

Posted: April 15, 2010 in Uncategorized

SUARA knalpot sepeda motor yang mengganggu telinga meyeruak di tengah panasnya kota Bekasi akhir pekan lalu. Ratusan sepeda motor berjajar rapih dalam tenda-tenda yang didirikan disekitar kompleks perumahan. Salah satu akses jalan raya dalam perumahan itu pun ditutup.

Rupanya kelompok anak-anak muda tersebut akan bersiap mengadakan kontes adu kecepatan dalam trek lurus (drag bike). Motor-motor yang digunakan tampak asing, sebagian besar tidak memasang bodi motor. Bahkan, komponen sepeda motor lainnya seperti jok ditaruh seadanya saja.

Motor ini memang tidak dilihat dari segi penampilannya, namun dinilai dari kemampuannya berpacu dalam arena balap. Dua lintasan lurus sejauh seperempat mil digunakan untuk mengadu dua pebalap. Pemenangnya adalah yang memiliki catatan waktu paling singkat melewati garis finis.

Sekilas mengenai sejarah drag bike di Indonesia, tidak seperti lomba motor lainnya seperti road race dan motorcross, kompetisi ini seperti ada dan tiada. Awal kemunculan balapan ini pada tahun 1995-an. Namun kurangnya event dan jenjang internasional membuat, gemerlap drag bike kembali redup.

Jarangnya event yang mengadakan ajang balap secara resmi, membuat sebagian penghobi balapan jenis ini turun ke jalan dengan mengadakan balapan liar. Seperti yang dituturkan salah satu pelaku drag bike Dadan Priandana (31).

Menurutnya ajang balap jenis ini jarang sekali digelar, sementara persaingan gengsi antara pebalap liar drag bike semakin ramai. “Jarang drag race diselenggarakan di Bandung. Karena itu biasanya adu balap dilakukan di monumen perjuangan Bandung pada sore hari,” ujarnya.

Hingga dua tahun silam, drag bike mulai kembali ramai. Terlebih dengan masuknya tren baru drag bike kelas skuter matik (skutik). Begitu wabah skutik melanda, para pembalap liar dan pemodifikasi motorpun beralih pandangan.

Jika sebelumnya motor laki seperti Honda Tiger dan CB yang jadi basis andalan untuk terjun di kelas Free For All (FFA), dengan kemunculan skutik yang berbodi yang kecil, ringan dan bertenaga sangar ini spontan menjadi bintang untuk dijadikan pacuan.

Kapasitas mesin pun ditingkatkan, dari semula 125 cc menjadi 350 cc. Melihat perkembangan tren balap motor kelas matik ini, pihak penyelenggara optimis drag skutik banyak menuai peserta baru.
Puluhan juta pun rela digelontorkan penghobi balap ini, asalkan motornya jadi paling tercepat diantara para pesaingnya. seperti dilakukan Dadan untuk ‘mengorek’ (merombak mesin) Kawasaki Ninja miliknya, Dadan menghabiskan dana lebih dari Rp 10 juta. Sementara untuk skuter matik, dia bisa habiskan dana lebih dari Rp 20-30 juta.

Namun, permasalahan penghobi balap ini tidak sekedar wadah penyelenggaraan saja. Ini juga terkait dengan aturan penyelenggaraan dan jenjang prestasi internasional ajang drag bike ini bagi pebalap  Indonesia.

*Unsur Keamanan Ditanggalkan*

Salah seorang pemerhati dan penyelenggara yang sering mengelar ajang ini, Sigit Widiyanto dari Flip Motoracing Division (FMD) mengatakan tata cara perlombaan yang dibuat Ikatan Motor Indonesia (IMI) masih rancu. “Drag motor ini memang belum mapan seperti drag mobil. Sehingga masih banyak tata aturan lomba yang harus diperbaiki,” katanya.
Salah satu aturan yang kurang tegas diberlakukan menurut pengamatan Torsimax adalah perihal perlengkapan keselamatan balapan. Pada suatu ajang drag bike di Bekasi, Minggu (4/4) lalu terlihat banyak peserta hanya menggunakan helm tanpa wearpack lengkap untuk balapan.

“Terpenting peserta pakai helm dan jaket tebal saja, karena resiko balapan ini kecil tidak seperti pada ajang road race,” tukas Sigit yang juga berperan sebagai Ketua penyelenggara ajang balapan itu.
Sementara dari pihak pabrikan nampak enggan serius turun mensponsori ajang ini, karena ajang ini dinilai jenjang prestasi pebalap drag tidak jelas di kelas internasional. Seperti dituturkan Ari Wibisono, Motorsport Manager PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI).

“Kami (Yamaha Indonesia) sangat fokus membawa merah putih berkibardi dunia internasional. Tapi ajang drag bike jenjangnya ke internasional muter-muter dan terlalu jauh,” katanya.
Kesulitan itu akhirnya membuat pihak Yamaha hanya membantu bagi pihak-pihak yang ingin mengembangkan riset motor mereka untuk lebih cepat. Menurut penuturan Ari, Yamaha Indonesia juga sangat terbantu imej motor mereka, khususnya skutik mampu merajai kelas bergengsi drag bike di Indonesia.

“Walaupun kami tidak intens ke arah drag bike, tapi kami banyak membantu peserta ajang drag bike konsultasi atau mencari komponen drag yang mereka perlukan,” ungkapnya.

Suatu wadah untuk meminimalisir kegiatan balap drag bike liar, memang sungguh dibutuhkan. Tapi tanpa dukungan aturan, sponsor dan banyak pihak terkait, maka hasilnya akan sia-sia.