Problematika Standarisasi Uang Muka Kredit Motor

Posted: Juli 3, 2012 in Uncategorized

BEBERAPA bulan yang lalu seorang pria bernama Ali baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai seorang kurir. Bapak dengan tiga anak tersebut pun tidak habis akal, dia siap beralih profesi menjadi seorang tukang ojek.

Gambar

Bermodalkan uang Rp500 ribu sebagai uang muka, kartu tanda penduduk dan kartu keluarga, ia pun mengajukan kredit kendaraan bermotor pada suatu leasing. Seminggu berselang Ali pun mendapat sepeda motor baru dan sekarang kesehariannya dihabiskan menjadi seorang tukang ojek.

Kini, langkah yang dilakukan Ali tersebut tampaknya sulit bisa ditiru lagi. Karena aturan mengenai ambang batas down payment (DP) kendaraan bermotor sudah diumumkan. Bila mencicil di bank maka minimal DP kredit motor sebesar 25%, di lembaga pembiayaan (leasing) DP minimal kredit kendaraan adalah 20%.

Jadi jika calon pengaju kredit motor ingin memiliki sepeda motor misalnya seharga Rp12 juta, maka dia harus menyiapkan uang muka sebesar Rp.2,4 hingga 3 juta.  Seorang petugas dari suatu perusahaan pembiayaan, Indra Perdana mengatakan dengan peraturan itu, dirinya akan mengalami kesulitan mencari konsumen dan memenuhi target pencapaian pengajuan kredit kendaraan bermotor.

Menurutnya pada umumnya pengaplikasi kredit berasal dari golongan menengah ke bawah. “Ini dua sisi mata uang sih, di satu sisi lebih mudah mencari konsumen yang tidak bermasalah untuk pelunasan kredit, tapi pasti pengajuan aplikasi kredit motor semakin berkurang karena masyarakat akan pikir dua kali untuk membeli motor,” jelasnya.

Kebijakan peningkatan DP untuk kredit kendaraan bermotor dikeluarkan ddalam rangka meningkatkan kehati-hatian dalam penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB). Salah satu sebabnya merupakan pertumbuhan KKB terlalu cepat meningkatkan risiko bubble.

“Kita terus mendorong pertumbuhan kredit. (Namun untuk) pertumbuhan kredit yang sifatnya agak konsumtif itu (sebaiknya) sedikit lebih lambat,” ujar Gubernur BI Darmin Nasution.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pem biayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia. Wiwie menjelaskan ketentuan peraturan uang muka kendaraan bermotor berpotensi dilakukannya restrukturisasi organisasi pada banyak perusahaan pembiayaan.
“Dari kenaikan ini, dampanya akan ada restrukturisasi organisasi atau penyesuaian jumlah karyawan jika penjualannya berat,” ujarnya.

Direktur Utama Adira Finance (ADMF), Stanley Setia Atmadja menilai rencana kenaikan uang muka kredit kendaraan bermotor yang diusulkan oleh Bank Indonesia (BI) harus dilihat secara total industri, di mana hal itu mesti memberikan dampak positif untuk penyerapan tenaga kerja.

“Jika memang angka kredit motor benar minimum 10 persen saja,” tukasnya.

* Skenario terburuk

Dari sisi pabrikan sepeda motor, hingga saat ini mereka masih mencermati dan mempelajari dampak dari kenaikan uang muka kredit kendaran bermotor. Indra Dwi Sunda, PR Corporate & Communication Head Yamaha Indonesia mengatakan masih belum mengetahui efek dari kebijakan tersebut.

“Saat ini kami masih melakukan pembicaraan dengan pihak asosiasi (AISI) apa langkah selanjutnya yang harus kami lakukan. Mengenai persentase terhadap penjualan belum bisa kami hitung apakah akan terjadi penurunan atau tidak,” jelasnya.

Sementara itu Astra Honda Motor (AHM) pun memiliki skenario terburuk yakni menunda investasi besarnya dalam membangun pabrik keempat, jika efek kebijakan ini condong menjadi negatif bagi pasar otomotif nasional.

“Semua rencana di 2012 ini harus diperhitungkan lagi, karena kebijakan baru BI yang menaikkan uang muka kendaraan baru,” jelas Senior General Manager AHM Sigit Kumala.

Menurutnya dengan adanya kenaikan ini, diprediksi produksi dan penjualan sepeda motor akan menurun sampai 30%. Pasalnya, daya beli masyarakat sudah dibuat menurun dengan kenaikan BBM, pada 1 April nanti.

“Yang membeli sepeda motor dengan uang muka rendah itu 60 persen adalah masyarakat menengah ke bawah. Sudah pasti akan ada penurunan, karena harga sepeda motor sudah tidak murah lagi,” lanjut Sigit.

Namun keresahan pabrikan Jepang tersebut justru tidak dialami pabrikan bermerek Viar. Pasalnya, harga sepeda motor yang relatif murah dibanding kompetitor lainnya menjadi nilai lebih dari produk Viar Indonesia.

Viar Indonesia membanderol motor untuk tipe bebek dan matik Rp8-9,9 juta. Kemudian untuk tipe Sport dilepas dengan harga  Rp14-16 juta. Sedangkan motor niaga roda tiga dihargai Rp18-22 juta.

“Konsumen yang membeli produk-produk Viar hampir 50 persen membeli secara cash. Bagi kami itu tidak akan terlalu berpengaruh,” kata General Manager Marketing Akhmad Zafitra Dalie.

Peraturan yang akan segera diterapkan dalam tiga bulan ke depan itu, sepertinya membutuhkan persiapan dari berbagai pelaku industri otomotif. Strategi dan inovasi pemasaran baru yang cerdas dibutuhkan agar pertumbuhan tetap terjadi, dan semoga mampu menghindari keterpurukan otomotif nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s