Archive for the ‘Kawasaki’ Category

“Jika yang lain jual nasi goreng, kenapa kita tidak jual nasi uduk saja.”

2007-Kawasaki-KLX250Sa

KALIMAT itu kerap terlontar dari Freddyanto Basuki, Service departement marketing division PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) usai peluncuran produk terbaru Kawasaki jenis dual purpose atau trail, yaitu KLX150S di Parkir Timur Senayan beberapa waktu lalu.

Nampaknya strategi KMI itu dilakukan setelah menyadari akan lemahnya Kawasaki menghadapi persaingan di kelas motor bebek, fokus menggarap pasar di kelas motor sport pun ditekuni. Sepeda motor yang  dipasarkan dengan harga Rp 21,7 juta (on the road, Jakarta) ini memang masih jarang dilirik oleh produsen lain di Indonesia.

Motor ini ditengarai bakal mulus melanggang di pasar, mengingat tidak ada pabrikan lain bermain di segmen ini, alias KLX 150S pemain tunggal. Boleh jadi KLX 150S akan mengikuti jejak sukses Ninja, yang meluncur tanpa pesaing.

Hal itu dlatari penjelasan Freddy yang mengungkapkan bahwa, pada awal Mei, PO (purchase order) untuk jenis motor tersebut sudah mencapai 1.800 unit, dan Juni mencapai 2.200 unit. “Khusus untuk KLX 150 kita memang produksi di dalam negeri, dengan kandungan komponen lokalnya yang cukup besar hingga 75%,” kata Freddy.

KLX 150S dibekali mesin 144cc 4 langkah SOHC dengan 2 katup. Tenaga maskimumnya adalah 8.60 kW pada 8.000 rpm, dan torsi maksimum 12Nm pada 6.500 rpm. Motor dengan 5 percepatan ini hanya butuh 1 liter bensin untuk menempuh jarak 36,79 km, dengan catatan dalam pemakaian normal sepeda motor pada umumnya.

Untuk emisi gas buang, KLX 150S telah memenuhi standar EURO 2 berkat teknologi KSAI (Kawasaki Secondary Air Injection System). KLX 150S mengaplikasi karburator Keihin NCV24 jenis vacuum dengan diameter venture 24mm. Sedangkan tipe sasisnya adalah baja perimeter dengan desain diamond.

Inovasi baru Kawasaki KLX 150 S yang juga memiliki konsep motor trail dual purpose memberikan sensasi dan seni tersendiri dalam menjelajah jalan. Desainnya sporty, dilengkapi fitur dan performa mesin yang handal serta kestabilan motor yang sudah teruji.

Selain itu Kawasaki KLX 150 S menggunakan mesin 150 cc, desain lampu sein yang informatif, headlamp yang tajam, bening dan jelas serta lampu belakang yang didesain ultra modern. Kelengkapan lain, KLX 150S didukung double disc brake, new unitrack single shock, muffler racing sport, warning light, lamp, dan tas multifungsi.

Spesifikasi Teknis KLX 150S
============================
Tipe Mesin        : 4 Langkah, SOHC 2 katup
Jumlah& Isi Silinder    : 1 Silinder & 144cc
Tipe Transmisi        : 5 Speed return
Tipe Rangka        : Perimeter, Box Section High Stainless Steel
Suspensi Depan        : 33mm Telescopic
Suspensi Belakang    : Uni Trak, Swing Arm Monoshock
Karburator        : KEIHIN NCV24
Sistem Rem Depan dan Belakang: Hidrolic, Single Disc
Ban Depan        : 70/100-19
Ban Belakang        : 90/100-16
Berat Kosong        : 108 kg

SEORANG pria berambut gondrong dan tidak tersisir rapi dengan gagah mengendarai motor trail, Suzuki TS 100. Celana jeans biru sobek yang dikenakannya, menambah kesan jiwa anak muda yang bebas. Anak muda itu bernama Troy. Seorang superstar di dunia balap motorcross, keahliannya mengendarai motor trail membuat dirinya menjadi pusat perhatian para wanita.
2008_01_08_bikepics-1141108-800 Sosok pria itu nampak jelas dalam film lawas Indonesia berjudul Roda-Roda Gila (1977). Sosok Troy yang diperankan aktor Roy Marten ternyata mampu membius penonton di era itu. Banyak anak muda mencontoh penampilan sang aktor, mulai dari gaya berpakaian hingga sepeda motor yang dikendarai Roy dalam film tersebut.

Tidak hanya di film itu sosok motor trail diperlihatkan ketangguhannya. Banyak film-film nasional pada tahun 1980-an juga menyuguhkan tontonan aksi-aksi kehebatan sebuah motor trail, sebut saja, Ali Topan Anak Jalanan (1977), dan beberapa film yang dilakoni ikon film laga, Barry Prima pada masa kejayaannya itu.

Tak ayal lagi, jenis sepeda motor trail menjadi motor idaman para anak muda. Komunitas anak muda pengendara motor trail pun bermunculan. Produsen sepeda motor seperti Suzuki, Yamaha, dan Kawasaki pun mengambil keuntungan dari tren motor anak muda tersebut.
Seperti pabrikan berlambang garpu tala (Yamaha) menjagokan produk trailnya, DT 100 dan 125. Seakan tak mau kalah dengan Suzuki, dan Yamaha, Kawasaki pun juga ikut meramaikan pasar dengan KE 125-nya. Ketiga produk motor yang diluncurkan pada era 1980-an itu, memiliki satu kesamaan dalam spek teknologi. Ketiganya masih mengandalkan tenaga mesin 2tak.

kwas
Kekuatan motor-motor trail lawas tersebut juga sangat memukau, sebut saja Suzuki TS 100 yang diproduksi pada 1977. Mengandalkan mesin satu silider dengan 5 percepatan, motor ini mampu menembus top speed hingga 110 km/jam. Sementara untuk Yamaha DT 125 mampu menghasilkan tenaga 13 horse power (HP) atau mampu mencapai kecepatan penuh 105 km/jam.

*Trail Berjaya*

Era tahun 1980-an menjadi puncak kejayaan motor trail di pasar otomotif nasional. Romansa itu kembali dikenang oleh salah seorang pengemar motor trail, Tato Sapoetro (53). “Walaupun harga motor trail lebih mahal dibanding motor jenis lainnya, tapi juga gengsinya saat itu lebih gede,” kenang pria yang dikenal sebagai bapaknya klub Suzuki itu.

Menurutnya saat itu persaingan motor enduro yang paling ketat adalah antara Yamaha dan Suzuki. Hal itu juga dibenarkan oleh mantan manajemen Yamaha, Heri Setianto. Pria ramah yang bergabung dengan Yamaha pada 1978 itu sempat merasakan hingar bingar tren motor trail.
Heri menuturkan saat itu ajang balap motorcross menjadi wadah para pencinta motor berjenis trail di Indonesia. Namun seiring perjalanan waktu, tren sepeda motor dual purpose itu kembali redup.

Memasuki era 1990-an hingga 2000 ajang kompetisi motorcross kembali tidak bergairah, diduga menjadi salah satu penyebabnya. “Sekarang mencari tanah kosong untuk pertandingan motorcross sulit, banyak tanah lapang telah dibangun menjadi daerah pemukiman atau perumahan,” kata Heri.
Kini komunitas trail perlahan kembali nampak, tapi dengan cap yang berbeda. Jika pada era tahun 1980-an, penyuka motor trail datang dari semua kalangan. Sekarang pengendara jenis motor khusus medan berat ini hanya diminati kalangan orang-orang berduit atau dari kalangan menengah ke atas.

Hal itu patut dimaklumi karena tidak ada pelaku motor nasional menyediakan motor jenis ini, para peminat motor trail harus membelinya secara impor. Misal saja motor dari pabrikan Austria KTM yang memiliki jenis motor trail beragam itu dibandrol dengan harga di atas motor biasa. Harga termurah motor KTM sekitar Rp 45 juta, hingga paling mahal bisa mencapai Rp 300 juta.

Tapi sekarang penggemar trail tak perlu bersusah payah mencari sampai ke luar negeri segala karena salah satu pelaku otomotif roda dua nasional yaitu PT Kawasaki Motor Indonesia saat ini sudah meluncurkan motor trail. Tapi apakah tren motor trail bisa kembali muncul? Masih patut dipertanyakan, karena menilik hanya satu pabrikan saja yang berani bermain di pasar motor trail.

foto trail

KLX 150 S, 75% Lokal Content

Posted: Mei 18, 2009 in Kawasaki

KONSUMEN sepeda motor di tanah air akhirnya memiliki pilihan tambahan setelah hadirnya Kawasaki KLX 250S, karena pada hari ini, Sabtu, 16 Mei, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) resmi meluncurkan model KLX 150S di Kawasan Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Jakarta.
TRAIL TERBARU KAWASAKI
Pada acara peluncuran yang bertema ‘The Art of Adventure’ ini KMI juga memperkenalkan model D-Tracker X yang merupakan titisan dari KLX 250S yang disulap menjadi motor bergaya supermotard. Hadirnya kedua model ini merupakan untuk melengkapi jajaran sepeda motor dual purpose yang sebelumnya hanya diisi oleh KLX 250S.

Menurut Manajer Marketing, Riset dan Pengembangan KMI Freddyanto Basuki, KLX 150S adalah produk KLX 140 versi Amerika yang telah mengalami penyesuaian untuk mengikuti peraturan lalu lintas di Indonesia dengan menambahkan lampu depan, lampu belakang, kaca spion, dudukan plat nomor, spakbor dan asesori lainnya.

Berbeda dengan beberapa produk terdahulu, KLX 150S mengusung konsep Light Trail, Delight Your Ways. Kendaraan multi guna ini disasar untuk kaum remaja-dewasa muda (youngster) untuk penggunaan harian maupun aktifitas hobi sport, adventure maupun ekstrem off road.

Ia menambahkan bahwa sepeda motor berkapasitas mesin 144cc ini memiliki piston yang materialnya sama dengan motor besar seperti Ninja ZX6R yang ringan dan kuat. KMI berharap KLX 150S mampu diserap pasar di angka 1.500-1.800 unit per bulan didukung dengan harga jualnya yang kompetitif Rp21,7 juta.

“Kami bisa menjual dengan harga yang kompetitif berkat kandungan lokal yang mencapai 70-75% pada KLX 150S dengan memberdayakan vendor-vendor lokal,” ujar Freddy kepada MI.com. Rencananya KMI akan menjadi basis pembuatan model KLX 150S untuk pasar ekspor ke Filipina dan Malaysia.

Sementara untuk D-Tracker X, lanjutnya, akan dilepas Rp60 juta dengan target penjualan yang kecil antara 20-30 unit per bulan. “Pasalnya, produk CBU ini sudah masuk kelas remium,” tambahnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, KMI belum bisa membuat D-Tracker X masuk dalam jalur perakitan karena untuk keperluan tersebut, dibutuhkan pembangunan fasilitas baru yang biayanya sama dengan membuat fasilitas untuk motor 600cc ke atas. Padahal di kelas itu baru ada Kawasaki Ninja 250R, KLX 250S dan yang baru ini D-Tracker X yang pangsa pasarnya relatif kecil dibanding segmen motor sekelas bebek.

“D-Tracker X akan sampai ke tangan pemesannya sekitar bulan Juli,” ujarnya di sela acara peluncuran dua model motor dari KMI yang kini mengusung moto Kawasaki Bagian Hidupku. Sementara acara peluncuran di Parkir Timur itu sendiri dikemas dalam suasana akrab penuh kekeluargaan dengan digelar beberapa aktifitas menarik seperti lomba untuk anak-anak, kids area, hiburan dari Project P, Cokelat dan sebagainya hingga undian doorprize 2 unit sepeda motor Kawasaki.

DI tengah kisruhnya tim hijau Kawasaki dalam menyambut musim balap MotoGP 2009 akibat krisis global. PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) selaku agen tunggal pemegang merek motor Kawasaki di Indonesia justru menggelar ajang balap One Make Race (OMR) kategori motor sport standar Ninja 150 cc dan Ninja 250 cc.

kawasakiLalu apa alasan KMI  Freddyanto Basuki, Marketing & Research development departemen marketing division KMI pun menjawab. “Kita tidak mau tertinggal, semua pabrikan menggelar OMR, begitupun Kawasaki, melalui ajang balap ini diharapkan dapat menjadi refrensi pemakai Kawasaki.”
 Walaupun hanya sebagai supporting race pada perhelatan perdana Indonesia Grand Prix (Indoprix) yang berlangsung Sabtu-Minggu, (14-15/3) di Sirkuit International Sentul, Jawa Barat. Namun, minat peserta yang mengkuti ajang tersebut cukup antusias. Tercatat 19 peserta mengikuti kelas Kawasaki Ninja 150cc dan di kelas Kawasaki Ninja 250 cc diikuti 23 pembalap.
 “Antusias masyarakat cukup tinggi, pesertanya sampai membludak, oleh karena itu jumlah peserta saat ini kami batasi hanya kurang lebih 30 peserta saja,” terang Freddyanto.
 Hal itu juga dilandasi dengan fakta bahwa Ninja 250R sebagai generasi Ninja 4-tak 250 cc pertama yang diproduksi Kawasaki ini memang sangat diminati masyarakat. Sebelumnya Ninja 2-tak 150 cc telah mendominasi angka penjualan Kawasaki secara keseluruhan.

kawasaki2
 Dengan Super Sport Styling Bodywork, Ninja 250R juga menunjukkan image sport yang kental sekali dan di tengah performanya sebagai motor gede (moge).
 Menurut Freddyanto rencananya gelaran OMR ini akan diadakan ditiap ajang Indoprix, tapi melihat kondisi sirkuit Kenjeran, dan Binuang yang dinilai belum cukup memadai, ajang ini baru bisa dilakukan di sirkuit Sentul saja.
 Penilaian Kawasaki cukup beralasan karena OMR ini khusus untuk jenis sepeda motor sport. Hal ini agak berbeda dengan OMR yang digelar merek lain yang justru memperlombakan sepeda motor bebek. 
 Untuk sistem penilaian, pria ramah ini yang datang ke Sentul dengan ditemani Mitsuhiko Okada, division manager marketing KMI itu, balap OMR Kawasaki dibagi 2 kelas. Lomba yang digelar hanya dibuka kelas non seeded, tapi pembalap pengalaman (seeded) diizinkan, tapi poinnya tidak dihitung.
 “OMR Kawasaki ini kami adakan sebagai wadah untuk komunitas, melalui balap ini kami dapat mengetahu performance kawasaki yang bisa dijadikan sebagai refrensi pengguna motor kawasaki,” kata Freddy.

*Kejutan Kawasaki Di Indoprix*
Sementara kejutan terjadi di seri perdana Indoprix 2009. Pembalap Ardhi Satya dari tim Kawasaki yang notabene pendatang baru pada ajang ini, berhasil menduduki podium 3 di kelas IP 110 cc. Bersama tim Kawasaki Elf IRC NHK Rextor Manual Tech, Ardhi mampu membuktikan diri meski baru pertama kali tampil di ajang balapan tersebut.
 “Saya bersyukur atas dukungan penuh tim, tapi semua prestasi ini tak lepas dari hasil kerja keras saya mengenal dengan baik lintasan Sentul,” ujarnya.
 Pembalap Kawasaki lainnya, Hadi Wijaya yang mengeber Kawasaki Athlete di kelas IP2 (125cc) finis kedua dengan catatan waktu terbaik 24 menit 03.201 detik. Kawasaki yang diperkuat tim Manual Tech dibawah asuhan mekanik kawakan Ibnu Sambodo ini turun dengan formasi tim lamanya. Tahun lalu Manual Tech dan dua pembalap ini bernaung di bawah bendera Suzuki, dan baru tahun ini mereka turun bersama Kawasaki.
 Diakui sang pembalapnya, Hadi Wijaya kedua motor Kawasaki yaitu, Athlete dan Blitz memiliki karakter yang berbeda. “Jika Athlete perlu penyesuaian di sirkuit yang sempit. Tapi Blitz justru lincah di sirkuit yang sempit, karena motornya yang lebih lincah,” jelasnya.
Light-sport bebek yang diberi merk Athlete ini mengandalkan suspensi berkelengkapan tabung udara besar di depan dan monoshock horizontal bottomlink unitrak system untuk suspensi belakang yang memiliki daya redam tinggi. Desain sport mutakhir terlihat jelas pada bodi motor underbone ini.
 Masalah adaptasi dengan tungangan anyar, diakuinya tidak menjadi masalah. “Setelah beberapa bulan menjajal motor Kawasaki ini, saya sudah mulai terbiasa dan siap memberikan hasil yang maksimal,” ujarnya lebih lanjut.